Tampilkan postingan dengan label Askep maternitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep maternitas. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Februari 2011
Preeklamsi
A. PENGERTIAN
Per eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih (Rustam Muctar, 1998 ).
Preeklampsi adalah penyakit primigravida dan kalau timbul pada seorang multigravida biasanya ada factor predisposisi seperti hypertensi, diabetes atau kehamilan ganda. Preeklampsi diketahui dengan timbulnya hypertensi, proteinuria dan oedema pada seorang gravida yang tadinya normal. Penyakit ini timbul sesudah minggu ke 20 dan paling sering terjadi pada primigravida yang muda. Kalau tidak diobati atau tidak terputus oleh persalinan dapat menjadi eklampsi.
B. ETIOLOGI
Sebab preeklampsi belum diketahui tapi pada penderita yang meninggal karena eklampsi terdapat perubahan yang khas pada berbagai alat, tapi kelainan yang menyertai penyakit ini ini ialah spasmus arteriole, retensi Na dan air dan coagulasi intravaskuler.
Walaupun vasospasmus mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi vasospasmus ini yang menimbulkan berbagi gejala yang menyertai eklampsi.
Karena penyakit ini masih merupakan teori, maka perlu kita untuk mengetahui factor predisposisi terjadinya penyakit ini. Misalnya, antara lain: primigravida, hiperplasentosis (molahidatidosa, gemeli, diabetes mellitus, hidrops fetalis), umur yang ekstrim untuk hamil, riwayat penyakit ginjal dan darah tinggi sebelumnya dan riwayat keluarga preeklasi-eklamsi. Ini penting, karena ibu yang memiliki factor predisposisi lebih berpeluang jika dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki factor predisposes untuk terjadi preeklamsi.
C. PATOFISIOLOGI
Pada pre eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ , termasuk ke utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari timbulnya proses pre eklampsia. Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran darah dan timbulnya hipertensi arterial. Vasospasme dapat diakibatkan karena adanya peningkatan sensitifitas dari sirculating pressors. Pre eklampsia yang berat dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation.
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Hypertensi : gejala yang paling dulu timbul ialah hypertensi yang terjadi tiba-tiba, sebagai batas diambil tekanan darah 140 mm systolis dan 90 mm diastolis tapi juga kenaikan systolis 30 mm atau diastolis 15 mm diatas tekanan yang biasa merupakan pertanda. Tekanan darah dapat mencapai 180 mm systolis dan 110 mm dyastolis tapi jarang mencapai 200 mm.jika tekanan darah melebihi 200 mm maka sebabnya biasanya hypertensi essentialis.
2. Oedema : timbulnya oedema didahului oleh tambah berat badan yang berlebihan. Penambahan BB ½ kg pada seorang yang hamil dianggap normal,tapi kalau mencapai 1 kg seminggu atau 3 kg dalam sebulan preeklampsi harus dicurigai. Tambah berat yang sekonyong-konyong ini disebabkan oleh retensi air dalam jaringan dan baru oedema nampak.oedema ini tidak hilang dengan istirahat.
3. Proteinuria : Proteinuria sering diketemukan pada preeklampsi,rupa-rupanya karena vasopasmus pembuluh-pembuluh darah ginjal. Proteinuria biasanya timbul lebih lambat dari hypertensi dan tambah berat.
4. Gejala-gejala subyektif : perlu ditekankan bahwa hypertensi, tambah BB dan proteinuria yang merupakan gejala-gejala yang terpenting dari preeklampsi tidak diketahui oleh penderita. Karena itu prenatal care sangat penting untuk diagnosa dan terapi preeklampsi dengan cepat. Baru pada preeklampsi yang sudah lanjut timbul gejala-gejala subyektif yang membawa pasien ke dokter.
Gejala subyektif itu ialah :
a)Sakit kepala yang karena vasospasmus atau oedema otak.
b)Sakit dihulu hati karena regangan selaput hati oleh karena haemorrhagia atau oedema, atau sakit perubahan pada lambung.
c)Gangguan penglihatan,penglihatan menjadi kabur malahan kadang-kadang pasien buta. Gangguan ini disebabkan vasopasmus,oedema atau ablatic retinae. Perubahan ini dapat dilihat dengan ophtalmoskop.
E. KLASIFIKASI PRE EKLAMSI
Pre eklamsi digolongakan ke dalam pre eklamsi ringan dan pre eklamsi berat dengan gejala dan tanda sebagai berikut:
Pre eklamsi ringan
1.Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mm Hg dengan inetrval pemeriksaan 6 jam.
2.Tekanan darah diastolik 90 atau 15 mm Hg dengan interval pemeriksaan 6 jam.
3.Kenaikan berat badan 1 Kg atau lebih dalam seminggu.
4.Proteinura 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1 sampai 2 pada urin kateter atau urin aliran pertengahan.
Pre eklamsi berat
Bila salah satu di antara gejala atau tanda diketemukan pada ibu hamil sudah dapat di golongkan preeklamsi berat :
1.Tekanan darah 160/110 mm Hg.
2.Oliguoria, urin kurang dari 400 cc/24 jam.
3.Proteinuria lebih dari 3 gr/liter.
4.Keluhan subjektif :
Nyeri epigastrium
Gangguan penlihatan
Nyeri kepala
Edema paru dan sianosis
Gangguan kesadaran
5.Pemeriksaan :
Kadar enzim hati meninmgkat disertai ikterus
Perdarahan pada retina
Trombosit kurang dari 100.000/mm.
Peningkatan gejala dan tanda pre-eklamsi berat memberikan petunjuk akan terjadi eklamspia.yang mempunyai prognosa buruk dengan angka kematian maternal dan janin tinggi.
F.TES DIAGNOSTIK
1.Tes diagnostik dasar
Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urin, pemeriksaan edema, pengukuran tinggi fundus uteri, pemeriksaan funduskopik.
2.Tes laboratorium dasar
Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi).
Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat aminotransferase, dan sebagainya).
Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin).
Uji untuk meramalkan hipertensi
Roll Over test
Pemberian infus angiotensin II.
F. PENATALAKSANAAN
Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti mengenai tanda – tanda sedini mungkin (pre eklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklampsia.
Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.
Penanganan
Tujuan utama penanganan adalah :
Untuk mencegah terjadinya pre eklampsi dan eklampsi.
Hendaknya janin lahir hidup.
Trauma pada janin seminimal mungkin.
ASUHAN KEPERAWATAN pada ibu hamil dengan PREEKLAMSI
A. PENGKAJIAN
Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah :
1. Data subyektif :
Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun
Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur
Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM
Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau eklamsia sebelumnya
Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan
Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya.
2. Data Obyektif :
Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM (jika refleks + )
Pemeriksaan penunjang ;
Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6 jam
Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml
Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak
USG ; untuk mengetahui keadaan janin
NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin
B. Diagnosa Keperawatan
1.Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir
2.Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap proses persalinan
3.Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan fungsi organ ( vasospasme dan peningkatan tekanan darah ).
4.Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan pada plasenta
C. Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa keperawatan I:
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan ibu mengerti penyebab nyeri dan dapat mengantisipasi rasa nyerinya
Kriteria Hasil :
- Ibu mengerti penyebab nyerinya
- Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya
Intervensi :
1.Kaji tingkat intensitas nyeri pasien
R/. Ambang nyeri setiap orang berbeda ,dengan demikian akan dapat menentukan tindakan perawatan yang sesuai dengan respon pasien terhadap nyerinya
2.Jelaskan penyebab nyerinya
R/. Ibu dapat memahami penyebab nyerinya sehingga bisa kooperatif
3.Ajarkan ibu mengantisipasi nyeri dengan nafas dalam bila HIS timbul
R/. Dengan nafas dalam otot-otot dapat berelaksasi , terjadi vasodilatasi pembuluh darah, expansi paru optimal sehingga kebutuhan 02 pada jaringan terpenuhi
4.Bantu ibu dengan mengusap/massage pada bagian yang nyeri
R/. untuk mengalihkan perhatian pasien
Diagnosa keperawatan II:
Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap proses persalinan
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan ibu berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
- Ibu tampak tenang
- Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan
- Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekarang
Intervensi :
1.Kaji tingkat kecemasan ibu
R/. Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan pemberian pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa
2.Jelaskan mekanisme proses persalinan
R/. Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan dapat mengurangi emosional ibu yang maladaptif
3.Gali dan tingkatkan mekanisme koping ibu yang efektif
R/. Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki ibu efektif
4.Beri support system pada ibu
R/. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi keadaan yang sekarang secara lapang dada sehingga dapat membawa ketenangan hati
Diagnosa keperawatan III :
Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan fungsi organ (vasospasme dan peningkatan tekanan darah).
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi kejang pada ibu
Kriteria Hasil :
- Kesadaran : compos mentis, GCS : 15 ( 4-5-6 )
- Tanda-tanda vital :
Tekanan Darah : 100-120/70-80 mmHg
Suhu : 36-37 C
Nadi : 60-80 x/mnt RR : 16-20 x/mnt
Intervensi :
1.Monitor tekanan darah tiap 4 jam
R/. Tekanan diastole > 110 mmHg dan sistole 160 atau lebih merupakan indikasi dari PIH
2.Catat tingkat kesadaran pasien
R/. Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah otak
3.Kaji adanya tanda-tanda eklampsia ( hiperaktif, reflek patella dalam, penurunan nadi,dan respirasi, nyeri epigastrium dan oliguria )
R/. Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada otak, ginjal, jantung dan paru yang mendahului status kejang
4.Monitor adanya tanda-tanda dan gejala persalinan atau adanya kontraksi uterus
R/. Kejang akan meningkatkan kepekaan uterus yang akan memungkinkan terjadinya persalinan
5.Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian anti hipertensi dan SM
R/. Anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah dan SM untuk mencegah terjadinya kejang
Anemia pada Ibu Hamil
KAJIAN TEORI ANEMIA PADA IBU HAMIL
A. Definisi
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Anemia dalam kehamilan ialah suatu kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr % terutama pada trimester I dan trimester ke III atau kadar Hb. Anemia dalam kehamilan adalah kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Suheimi, 2007). B. Etiologi Etiologi anemia pada kehamilan, yaitu: a. Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah. b. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma. c. Kurangnya asupan zat besi dalam makanan. d. Kebutuhan zat besi meningkat untuk pertumbuhan janin. e. Gangguan pencernaan dan absorbsi. C. Patofisiologi Anemia Pada Kehamilan Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron. D. Gejala Gejala anemia pada kehamilan yaitu : -ibu mengeluh cepat lelah -sering pusing -mata berkunang-kunang -malaise -lidah luka -nafsu makan turun (anoreksia) -konsentrasi hilang -nafas pendek (pada anemia parah) -keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda Secara sistemik, dapat diuraikan sebagai berikut : 1.Sistem jantung : nafas pendek, dispnea sewaktu kerja berat, gelisah 2.Sistem pernafasan : nyeri dada, batuk, sesak nafas, demam, gelisah 3.Sistem saraf pusat : pusing, kejang, sakit kepala, gangguan BAK dan BAB 4.Sistem genitourinaria : nyeri pinggang, hematuria 5.Sistem gastrointestinal : nyeri perut, hepatomegali, demam 6.Sistem okular : nyeri, perubahan penglihatan, buta 7.Sistem skeletal : nyeri, mobilitas berkurang, nyeri dan bengkak pada lengan dan kaki. E. Akibat yang di timbulkan a.Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: -Abortus -Kematian bayi dalam kandungan -Missed Abortus dan kelainan kongenital b.Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: -Persalinan prematur -Perdarahan antepartum -Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim -Asfiksia aintrauterin sampai kematian -BBLR -Gestosis dan mudah terkena infeksi -IQ rendah c.Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan : -Gangguan his baik primer maupun sekunder -Janin akan lahir dengan anemia, dan -Persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah -Lamanya waktu partus karena kurang daya dorong rahim, pendarahan post – partum, rentan infeksi, rawan dekompensasi cordis pada penderita dengan hb kurang dari 4 g -Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan shock bahkan kematian ibu saat persalinan, meskipun tak disertai pendarahan d.Saat post partum anemia dapat menyebabkan : -Tonia uteri -Retensio placenta -Pelukaan sukar sembuh -Mudah terjadi febris puerpuralis, dan -Gangguan involusio uteri. F. Derajat Anemia Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada criteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalam 3 kategori, yaitu normal (≥11 gr/dl), anemia ringan (8-11 g/dl), dan anemia berat (kurang dari 8 g/dl). Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ternyata rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil adalah sebesar 11.28 mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7.63 mg/dl dan tertinggi 14.00 mg/dl. Klasifikasi anemia yang lain adalah : a. Hb 11 gr% : Tidak anemia b. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan c. Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang d. Hb < 7 gr% : Anemia berat G. Pencegahan Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi. Anemia juga bisa dicegah dengan mengatur jarak kehamilan atau kelahiran bayi. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis. Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar jarak antar kehamilan tidak terlalu pendek, minimal lebih dari 2 tahun. H. Pengobatan 1. Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya. 2. Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai. 3. Pemberian preparat Fe : Pemberian preparat besi (ferosulfat/ferofumarat/feroglukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan di antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin normal. 4. Bedah Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan karena diverticulum Meckel. 5. Suportif Makanan gizi seimbang terutama yang megandung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan). I. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan darah lengkap : retikulosit (jumlah darah bervariasi dari 30% – 50%), leukositos (khususnya pada krisis vaso-oklusit) penurunan Hb/Ht dan total SDM. b. Pemeriksaan pewarnaan SDM : menunjukkan sabit sebagian atau lengkap, sel bentuk bulan sabit. c. Tes tabung turbiditas sabit : pemeriksaan rutin yang menentukan adanya hemoglobin S, tetapi tidak membedakan antara anemia sel sabit dan sifat yang diwariskan (trait). d. Elektroforesis hemoglobin : mengidentifikasi adanya tipe hemoglobin abnormal dan membedakan antara anemia sel sabit dan anemia sel trait. e. LED : meningkat. d. GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2. e. Bilirubin serum : meningkat. f. LDH : meningkat. g. IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal. h. Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang. j. Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
1.Pengkajian
-Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku / bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
-Identitas penanggung.
-Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu.
-Keluhan utama : pada keluhan utama akan nampak semua apa yang dirasakan klien pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan pucat.
-Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita.
-Pemerisaan fisik
1.Aktivitas / istirahat
Gejala : Keletihan / kelemahan terus-menerus sepanjang hari, ebutuhan tidur lebih besar dan istirahat.
Tanda : Gangguan gaya berjalan.
2.Sirkulasi
Gejala : Palpitasi atau nyeri.
Tanda : Tekanan darah menurun, nadi lemah, pernafasan lambat, warna kulit pucat atau sianosis, konjungtiva pucat.
3.Eliminasi
Gejala : Sering berkemih, nokturia (berkemih malam hari).
4.Integritas ego
Gejala : Kuatir, takut.
Tanda : Ansietas, gelisah.
5.Makanan / cairan
Gejala : Nafsu makan menurun.
Tanda : Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas gigitan, tampak kulit dan membran mukosa kering.
6.Hygiene
Gejala : Keletihan / kelemahan
Tanda : Penampilan tidak rapi.
7.Neurosensori
Gejala : Sakit kepala / pusing, gangguan penglihatan.
Tanda : Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot.
8.Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri pada punggung, sakit kepala.
Tanda : Penurunan rentang gerak, gelisah.
9.Pernafasan
Gejala : Dispnea saat bekerja.
Tanda : Mengi
10.Keamanan
Gejala : Riwayat transfusi.
Tanda : Demam ringan, gangguan penglihatan.
11.Seksualitas
Gejala : Kehilangan libido.
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1.Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel
2.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen(nutrisii dengan kebutuhan
3.Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan/ absorbsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal
4.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasidaan neurologist (anemia)
5.Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan proses pencernaan, efek samping terapi obat
6.Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder yang tidak adekuat
7.Kurang pengetahuan dan kondisi prognosis serta kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi
3. Nurse Care Planning
1.Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel
Tujuan
Perfusi jaringan kembali normal
Kriteria hasil
Tanda vital stabil
Membrane mukosa warna merah muda
Pengisian kapiler baik
Haluaran urine yang adekuat
Mental seperti biasa (mampu berorientasi)
Intervensi
1.Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/ membrane mukosa, dasar kuku
2.Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
3.Awasi upaya pernafasan ; auskultasi bunyi nafas perhatikan bunyi adventius
4.Selidiki keluhan nyeri dada. Palpitasi
5.Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung
6.Orientasi ulang pasien sesuai kebutuhan. Catat jadwal aktivitas pasien untuk dirujuk. Berikan cukup waktu untuk pasien berpikir, konunikasi dan aktivitas
7.Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasihindari pengguanaan bantalan penghangat atau botol air panas, ukur suhu dengan thermometer
8.Awasi pemeriksaan laboratorium
9.Berikan sdm darah lengkap. Produk darah sesuai indikasi serta awasi komplikasi tranfusi
10.Berikan oksigen sesuai indikasi
Rasional
1.Memberikan informasi tentang derajat keadekuatan perfusi jaringandan membantu menentukan kebutuhan intervensi
2.Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler.(contraindikasi bagi hipotensi)
3.Dispneu gemericik menunjukkkan gjk karena regangan lama atau peningkatan kompensas curah jantung
4.Iskemia seluler mempengaruh jaringan miokardial atau potensial resiko infark
5.Dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia atau defisiensi vitamin b 12
6.membantu memperbaiki proses berfikir dan kemampuan melakukan/mempertahankan kebutuhan komunikasi social
7.vasokontriksi ke organ vital menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien atau kebutuhan untuk menghndari panas berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan fungsi organ)
8.mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan atau repon terhadap terapi
9.termoreseptor jaringan dermal dangaal karena gangguan oksigen
10.meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen , memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan
11.memaksimalkan transport oksigen ke jaringan
2.Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan/ absorbsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal
Tujuan
Menunjukkan nutrisi adekuat
Krieria hasil
Peningkatan BB (stabil) dengan nilai lab. Normal
Tak mengalami tanda malnutrisi
Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/ atau mempertahankan BB yang sesuai
Intervensi
1.Kaji riwayat, termasuk makan yang sesuai
2.Observasi dan catat masukan makanan px
3.Timbang BB tiap hari
4.Berikan makanan sedikit tapi sering
5.Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus, dan gejala lain yang berhubungan
6.Berikan oral hygiene sesuai indikasi
7.Konsul pada ahli gizi
8.Berikan diet halus, redah serat menhindari makanan panas pedas atau terlalu asin sesuai indikasi
9.Berikan suplemen nutrisi
Rasional
1.mengidentifikasi defisensi, menduga kemungkinan intervensi
2.mengawasi msukan kalori atau kwalitas kekurangna konsumsi makanan
3.mengawasi penuruan BB atau efektivitas intervensi nutrisi
4.menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster
5.gejala GI dapat menunjukkan efek anemia atau hypoxia pada organ
6.meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral
7.membantu dalam membuat rencana diet untuk mememnuhi kebutuhan individual
8.bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi pasien
9.meningkatkan masukan protein dan kalori
3.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen(nutrisii dengan kebutuhan)
Tujuan
Aktivitas kembali normal
Krieria hasil
Peningkatan aktivitas
Penurunan tanda fisiologis intoleransi
TTV stabil (normal)
Intervensi
1.kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas atau AKS normal, catat laporan kelelahan, keletihan ean kesulitan menyelesaikan tugas
2.kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot
3.awasi TTV
4.berikan lingkungan tenang dan pertahankan tirah baring
5.ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing
6.prioprtaskan jadwal askep untuk meningkatkan istirahat
7.berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi b/p memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin
8.rencanakan kemajuan aktivitas dengan px, termasuk aktivitas yang pasien opandang perlu
9.gunakan teknik penghematan energi
10.anjurkan px untuk menghentika aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, nafas pendek, kelemahan atau pusing terjadi
Rasional
1.mempengaruhi pilihan intervensi atau pilihan
2.menunjukkan perubahan neurology karena defisiens vit B12
3.manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan
4.meningkatkan istirahat untuk menurunkan keb. Oksigen tubuh
5.hipotensi postural atau hypoxia serebral, berdenyut dan –peningkatan resiko cedera
6.mempertahankan dan meningkatkan regangan pada system jantung dan pernafasan
7.membantu b/p, harga diri di tingkatkan bila px melakukan sesuatu sendiri
8.meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot
9.mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan
10.regangan atau steres kardiopulmonl berlebihan dapat menimbulkan dekompensasi
A. Definisi
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Anemia dalam kehamilan ialah suatu kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr % terutama pada trimester I dan trimester ke III atau kadar Hb. Anemia dalam kehamilan adalah kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Suheimi, 2007). B. Etiologi Etiologi anemia pada kehamilan, yaitu: a. Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah. b. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma. c. Kurangnya asupan zat besi dalam makanan. d. Kebutuhan zat besi meningkat untuk pertumbuhan janin. e. Gangguan pencernaan dan absorbsi. C. Patofisiologi Anemia Pada Kehamilan Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron. D. Gejala Gejala anemia pada kehamilan yaitu : -ibu mengeluh cepat lelah -sering pusing -mata berkunang-kunang -malaise -lidah luka -nafsu makan turun (anoreksia) -konsentrasi hilang -nafas pendek (pada anemia parah) -keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda Secara sistemik, dapat diuraikan sebagai berikut : 1.Sistem jantung : nafas pendek, dispnea sewaktu kerja berat, gelisah 2.Sistem pernafasan : nyeri dada, batuk, sesak nafas, demam, gelisah 3.Sistem saraf pusat : pusing, kejang, sakit kepala, gangguan BAK dan BAB 4.Sistem genitourinaria : nyeri pinggang, hematuria 5.Sistem gastrointestinal : nyeri perut, hepatomegali, demam 6.Sistem okular : nyeri, perubahan penglihatan, buta 7.Sistem skeletal : nyeri, mobilitas berkurang, nyeri dan bengkak pada lengan dan kaki. E. Akibat yang di timbulkan a.Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: -Abortus -Kematian bayi dalam kandungan -Missed Abortus dan kelainan kongenital b.Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: -Persalinan prematur -Perdarahan antepartum -Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim -Asfiksia aintrauterin sampai kematian -BBLR -Gestosis dan mudah terkena infeksi -IQ rendah c.Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan : -Gangguan his baik primer maupun sekunder -Janin akan lahir dengan anemia, dan -Persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah -Lamanya waktu partus karena kurang daya dorong rahim, pendarahan post – partum, rentan infeksi, rawan dekompensasi cordis pada penderita dengan hb kurang dari 4 g -Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan shock bahkan kematian ibu saat persalinan, meskipun tak disertai pendarahan d.Saat post partum anemia dapat menyebabkan : -Tonia uteri -Retensio placenta -Pelukaan sukar sembuh -Mudah terjadi febris puerpuralis, dan -Gangguan involusio uteri. F. Derajat Anemia Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada criteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalam 3 kategori, yaitu normal (≥11 gr/dl), anemia ringan (8-11 g/dl), dan anemia berat (kurang dari 8 g/dl). Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ternyata rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil adalah sebesar 11.28 mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7.63 mg/dl dan tertinggi 14.00 mg/dl. Klasifikasi anemia yang lain adalah : a. Hb 11 gr% : Tidak anemia b. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan c. Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang d. Hb < 7 gr% : Anemia berat G. Pencegahan Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi. Anemia juga bisa dicegah dengan mengatur jarak kehamilan atau kelahiran bayi. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis. Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar jarak antar kehamilan tidak terlalu pendek, minimal lebih dari 2 tahun. H. Pengobatan 1. Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya. 2. Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai. 3. Pemberian preparat Fe : Pemberian preparat besi (ferosulfat/ferofumarat/feroglukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan di antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin normal. 4. Bedah Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan karena diverticulum Meckel. 5. Suportif Makanan gizi seimbang terutama yang megandung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan). I. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan darah lengkap : retikulosit (jumlah darah bervariasi dari 30% – 50%), leukositos (khususnya pada krisis vaso-oklusit) penurunan Hb/Ht dan total SDM. b. Pemeriksaan pewarnaan SDM : menunjukkan sabit sebagian atau lengkap, sel bentuk bulan sabit. c. Tes tabung turbiditas sabit : pemeriksaan rutin yang menentukan adanya hemoglobin S, tetapi tidak membedakan antara anemia sel sabit dan sifat yang diwariskan (trait). d. Elektroforesis hemoglobin : mengidentifikasi adanya tipe hemoglobin abnormal dan membedakan antara anemia sel sabit dan anemia sel trait. e. LED : meningkat. d. GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2. e. Bilirubin serum : meningkat. f. LDH : meningkat. g. IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal. h. Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang. j. Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
1.Pengkajian
-Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku / bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
-Identitas penanggung.
-Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu.
-Keluhan utama : pada keluhan utama akan nampak semua apa yang dirasakan klien pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan pucat.
-Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita.
-Pemerisaan fisik
1.Aktivitas / istirahat
Gejala : Keletihan / kelemahan terus-menerus sepanjang hari, ebutuhan tidur lebih besar dan istirahat.
Tanda : Gangguan gaya berjalan.
2.Sirkulasi
Gejala : Palpitasi atau nyeri.
Tanda : Tekanan darah menurun, nadi lemah, pernafasan lambat, warna kulit pucat atau sianosis, konjungtiva pucat.
3.Eliminasi
Gejala : Sering berkemih, nokturia (berkemih malam hari).
4.Integritas ego
Gejala : Kuatir, takut.
Tanda : Ansietas, gelisah.
5.Makanan / cairan
Gejala : Nafsu makan menurun.
Tanda : Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas gigitan, tampak kulit dan membran mukosa kering.
6.Hygiene
Gejala : Keletihan / kelemahan
Tanda : Penampilan tidak rapi.
7.Neurosensori
Gejala : Sakit kepala / pusing, gangguan penglihatan.
Tanda : Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot.
8.Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri pada punggung, sakit kepala.
Tanda : Penurunan rentang gerak, gelisah.
9.Pernafasan
Gejala : Dispnea saat bekerja.
Tanda : Mengi
10.Keamanan
Gejala : Riwayat transfusi.
Tanda : Demam ringan, gangguan penglihatan.
11.Seksualitas
Gejala : Kehilangan libido.
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1.Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel
2.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen(nutrisii dengan kebutuhan
3.Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan/ absorbsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal
4.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasidaan neurologist (anemia)
5.Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan proses pencernaan, efek samping terapi obat
6.Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder yang tidak adekuat
7.Kurang pengetahuan dan kondisi prognosis serta kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi
3. Nurse Care Planning
1.Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel
Tujuan
Perfusi jaringan kembali normal
Kriteria hasil
Tanda vital stabil
Membrane mukosa warna merah muda
Pengisian kapiler baik
Haluaran urine yang adekuat
Mental seperti biasa (mampu berorientasi)
Intervensi
1.Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/ membrane mukosa, dasar kuku
2.Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
3.Awasi upaya pernafasan ; auskultasi bunyi nafas perhatikan bunyi adventius
4.Selidiki keluhan nyeri dada. Palpitasi
5.Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung
6.Orientasi ulang pasien sesuai kebutuhan. Catat jadwal aktivitas pasien untuk dirujuk. Berikan cukup waktu untuk pasien berpikir, konunikasi dan aktivitas
7.Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasihindari pengguanaan bantalan penghangat atau botol air panas, ukur suhu dengan thermometer
8.Awasi pemeriksaan laboratorium
9.Berikan sdm darah lengkap. Produk darah sesuai indikasi serta awasi komplikasi tranfusi
10.Berikan oksigen sesuai indikasi
Rasional
1.Memberikan informasi tentang derajat keadekuatan perfusi jaringandan membantu menentukan kebutuhan intervensi
2.Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler.(contraindikasi bagi hipotensi)
3.Dispneu gemericik menunjukkkan gjk karena regangan lama atau peningkatan kompensas curah jantung
4.Iskemia seluler mempengaruh jaringan miokardial atau potensial resiko infark
5.Dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia atau defisiensi vitamin b 12
6.membantu memperbaiki proses berfikir dan kemampuan melakukan/mempertahankan kebutuhan komunikasi social
7.vasokontriksi ke organ vital menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien atau kebutuhan untuk menghndari panas berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan fungsi organ)
8.mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan atau repon terhadap terapi
9.termoreseptor jaringan dermal dangaal karena gangguan oksigen
10.meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen , memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan
11.memaksimalkan transport oksigen ke jaringan
2.Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan/ absorbsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal
Tujuan
Menunjukkan nutrisi adekuat
Krieria hasil
Peningkatan BB (stabil) dengan nilai lab. Normal
Tak mengalami tanda malnutrisi
Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/ atau mempertahankan BB yang sesuai
Intervensi
1.Kaji riwayat, termasuk makan yang sesuai
2.Observasi dan catat masukan makanan px
3.Timbang BB tiap hari
4.Berikan makanan sedikit tapi sering
5.Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus, dan gejala lain yang berhubungan
6.Berikan oral hygiene sesuai indikasi
7.Konsul pada ahli gizi
8.Berikan diet halus, redah serat menhindari makanan panas pedas atau terlalu asin sesuai indikasi
9.Berikan suplemen nutrisi
Rasional
1.mengidentifikasi defisensi, menduga kemungkinan intervensi
2.mengawasi msukan kalori atau kwalitas kekurangna konsumsi makanan
3.mengawasi penuruan BB atau efektivitas intervensi nutrisi
4.menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster
5.gejala GI dapat menunjukkan efek anemia atau hypoxia pada organ
6.meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral
7.membantu dalam membuat rencana diet untuk mememnuhi kebutuhan individual
8.bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi pasien
9.meningkatkan masukan protein dan kalori
3.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen(nutrisii dengan kebutuhan)
Tujuan
Aktivitas kembali normal
Krieria hasil
Peningkatan aktivitas
Penurunan tanda fisiologis intoleransi
TTV stabil (normal)
Intervensi
1.kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas atau AKS normal, catat laporan kelelahan, keletihan ean kesulitan menyelesaikan tugas
2.kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot
3.awasi TTV
4.berikan lingkungan tenang dan pertahankan tirah baring
5.ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing
6.prioprtaskan jadwal askep untuk meningkatkan istirahat
7.berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi b/p memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin
8.rencanakan kemajuan aktivitas dengan px, termasuk aktivitas yang pasien opandang perlu
9.gunakan teknik penghematan energi
10.anjurkan px untuk menghentika aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, nafas pendek, kelemahan atau pusing terjadi
Rasional
1.mempengaruhi pilihan intervensi atau pilihan
2.menunjukkan perubahan neurology karena defisiens vit B12
3.manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan
4.meningkatkan istirahat untuk menurunkan keb. Oksigen tubuh
5.hipotensi postural atau hypoxia serebral, berdenyut dan –peningkatan resiko cedera
6.mempertahankan dan meningkatkan regangan pada system jantung dan pernafasan
7.membantu b/p, harga diri di tingkatkan bila px melakukan sesuatu sendiri
8.meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot
9.mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan
10.regangan atau steres kardiopulmonl berlebihan dapat menimbulkan dekompensasi
Langganan:
Postingan (Atom)


